Hanya Mimpi

Post a Comment

Pagi ini mama membangunkanku terlambat, sampai sampai aku sangat terburu buru pergi kesekolah. Aku menghiraukan panggilan mama yang menyuruhku untuk sarapan terlebih dulu, langsung saja aku tergupuh-gupuh menuju kesekolah, menggoes sepedaku dengan cepat, karna takut terlambat.

Ditengah tengah perjalanan kesialanpun menghampiriku, ban sepeda yang aku naiki bocor, akhirnya aku meninggalkan sepeda itu dibengkel terdekat karna tidak mau menunggu. Untung saja angkutan umum cepat datang, jadi aku tidak perlu menunggu lama. Tidak lama kemudian aku sampai disekolah, karena jaraku terkena musibah tadi dengan sekolah tidak terlalu jauh jadi tidak banyak memakan waktu.

“akhirnya sampai juga”. Gumamku. ”untung saja bel sekolah belum dibunyikan”.

Aku berlari-larian menuju kelas dan akhirnya “GUBRAK!!!!”. Aku tersandung oleh kakiku sendiri karna menginjak tali sepatu yang belum sempat ku ikat rapi. 

“ahh sial! Kenapa jatuh segala sih, kan sakit”. Aku menggerutu sambil merengek kesakitan. Tapi kalau difikir-fikir ini juga karena aku terlalu ceroboh ya, hehe. Kenapa aku tidak mengikatnya dengan rapi tadi, gumamku dalam hati.

“ahh bego!”. Aku menepuk jidat sambil cengingisan. Aku belum beranjak bangun dari tempatku terjatuh, karena sedang mengikat tali sepatu yang terinjak tadi. Tiba-tiba ada seseorang yang membantuku mengikatkan tali sepatuku. 

“kamu aneh ya, jatuh malah cengingisan”. Dia membantuku berdiri. Aku masih terheran-heran, bengong, takjub dan ah...aku tidak bisa menjelaskanya. Kenapa? Karena dia benar-benar tampan, hahaha.

“alamak, siapa cowok ini, kenapa dia seperti malaikat, apa jangan jangan dia beneran malaikat ? atau manusia berwujud malaikat ? sepertinya aku sudah gila”.  Gumamku dalam hati.  Tiba tiba saja aku tersadar “ah maaf aku melamun, terimakasih sudah membantuku”.

“iya nggak masalah kok, lain kali hati-hati ya”. Dia berkata sambil tersenyum. Alamak senyumnya mengubah dunia yang kelabu ini. Hahaha ...

Aku sudah berada di kelas, tak lama kemudian wali kelasku masuk disusul dengan sosok yang membuat semua mata tertuju padanya terutama mata wanita. Hehe, termasuk aku, hahay. Bagaimana tidak, bisa dikatakan dia malaikat yang berwujud manusia walaupun jujur saja aku juga belum pernah melihat malaikat. Hehe ..

Matau terbelalak ketika itu karena menyadari bahwa murid baru ini adalah dia yang tadi menolongku. “pantas aku tidak mengenalnya”. Gumamku. Wajahnya benar benar ah....tidak bisa dijelaskan. Tapi semakin dilihat sepertinya dia tidak asing bagiku “selain waktu tadi dia menolongku, dimana lagi aku pernah melihatnya ya”. Gumamanku dalam hati.

“baiklah anak-anak, mulai hari ini kalian mendapatkan teman baru, silahkan perkenalkan dirimu adam”.
“baik pak, nama saya Adam Albert Adrian, kalian bisa memanggilku adrian”.

“hai adrian”. Suara serentak semua siswa menyapanya. Walaupun kelas kami terkenal nakal tapi kami selalu ramah dengan murid baru. Kenapa ? karena dia sudah mau masuk kegolongan kami, karena dia telah berani, maka kami akan membuatnya merasakan hidup yang sesungguhnya.

“adam? Dia benar-benar tidak asing bagiku”. Gumamku dalam hati, “kenapa ingatan ini susah dikembalikan sih”. “apakah sebelumnya aku pernah mengenalmu, adam?”. Kataku bernisik tetapi masih terdengar oleh pipin, teman sebangku ku.

“kau tadi bilang apa”.

“entahlah, sepertinya aku berkhayal pernah melihat malaikat”. Pipin pun menggeleng-gelengkan kepalanya keheranan.

Masih menatap adam dengan seksama, dia tersenyum lalu menuju bangku yang masih kosong. “ah itu dia, senyum itu, senyum yang mengeluarkanku dari gelapnya dunia ini, yaps akhirnya aku mengingatmu”. Gumamku lega.

Ya, dia adalah laki laki baik yang pernah aku kenal dulu, senyum itu, wajah itu, pandangan seseorang yang mengajaku seakan masuk kedalam dunianya. Tidak pernah berubah, masih tetap sama seperti 3 tahun yang lalu. Dia yang membuatku bertahan sampai sekarang.

“adel, malah melamun begitu, dengerin ketua ngomong dong”. Pipin menyadarkan lamunanku dan kembali kedunia nyata.

“Adam, aku faqih, ketua dikelas ini, aku akan memperkenalkan mereka beserta kebiasanya. Ini juli, kebiasaanya adalah menulis. Ini dika, kebiasaanya membaca. Ini aan, kebiasaanya memotivasi para jomblo sekaligus youtubers”. Faqih masih terus memperkenalkan teman-teman yang lain serta kebiasaan-kebiasaan mereka. Sampai akhirnya giliran agung. “Dan ini agung, kebiasaanya adalah tertawa terbahak-bahak”. Diperkenalkan seperti itu agung hanya tersenyum sambil menggerutu pelan.

“Dan yang terakhir adel, hmmm kebiasaanya sangat banyak, seperti tidur, berkhayal, dan terlambat kesekolah”. Aku hanya mendengar kebiasaanku dan ternyata tidak ada yang baik. Haha aku baru sadar sekarang.

“hei qih, kenapa kebiasaanku paling banyak dan tidak ada yang baik pula”. Protesku.

“memang itulah kamu del”. Jawab salah seorang temanku. “lihat saja aku pasti akan menghajarnya nanti, sekarang aku masih sadar”. Gerutuku. 

"Aku duduk didepan adam. “kenapa kamu pindah kesekolah ini dam?”

Adam bukanya menjawab malah memandangiku dengan seksama, aku melambai-lambaikan tanganku didepan wajahnya. “hallo” aku terus melambai-lambai “dam kamu dengerin aku kan?” tiba tiba adam memegang tanganku dan menjatukanya dimeja.

“apa kita pernah saling mengenal?”

“hehe aduh jawab apa aku” gumamku. Suasana seketika itu menjadi begitu dingin, tapi peluhku serasa bercucuran. Mungkin aku gugup karena tanganku masih digenggamnya.

“sudah banyak yang bertanya seperti itu dam karena adel memang mirip dengan Deandra adelina”. Pipin menyelamatkanku. Oh terimakasih Tuhan engkau telah mengirim pipin untuk menyelamatkanku.

“hehe iya benar kata pipin, aku mirip kan?” sambil mengibas-ngibaskan rambut panjangku.

Tanpa menghiraukan perkataan pipin, tanpa menghiraukan aku berbicara apa, tanpa menghiraukan suasana disekitar, dia tetap menggenggam tanganku dengan menanyakan hal yang sama.

“apakah kita pernah saling mengenal?”.
“astaga adam, aku bahkan tidak bisa menjawabnya”.
“tapi sepertinya kita memang saling dekat, apa aku benar?”
“aku benar-benar yakin bahwa kita pernah bersama”
WHAT?!! Bersama? Aku seakan terjatuh dari bangku tempatku duduk mendengar perkataanya. “pernah bersama, hahaha”. Gumamku.
“apakah kau adel yang itu?”. Kelihatanya dia mengingat sesuatu.
“adel yang itu?” tanya pipin. 
“apa kalian saling kenal?. Timpal faqih dengan bingungnya.
“aku benar-benar mengingat tawamu itu”. Aku menarik tanganku, lalu mendekatkan sedikit pandanganku padanya. Dengan senyum paling manis aku berkata “apa kabar? Sepertinya sudah lama kita tidak bertemu”.
“ah ternyata benar itu kamu del?. Dia mengacak-acak rambutku.
“kenapa tidak memberitahuku dari awal?”
“aku memberimu waktu untuk mengingatnya sendiri”.

Ya, benar. Kami pernah saling dekat, kami pernah bersama. Dia pernah membuatku merasa sangat bahagia menjalani hari demi hari. Membuat dunia yang gelap menjadi terang, melukiskan tawa diwajah ini setiap saat. Ya, dialah orangnya. Adam, laki-laki hebat yang membawaku masuk kedunianya. Dunia yang penuh kebahagiaan sampai saat ini.

Tiba-tiba aku merasa tubuhku dihoyak-hoyak oleh seseorang. Aku merasa ada yang memanggil namaku. Perlahan-lahan dengan berat aku membuka mata.

“del bangun, ayok kita pulang, malah tidur terus.” Kata pipin membangunkanku dari tidur.
“arrgghh... ternyata Cuma mimpi.” sambil bermalas-malasan aku bangun mengemasi buku-buku ku.
“pin, tunggu aku ya”.
“iya, kamu tadi mimpi apa?”

Tiba-tiba pulpenku terjatuh. “pulpen sial, kenapa jatuh sih”.

Ada sosok yang mengambikanya. “jangan marah-marah pada pulpen, dia kan tidak salah”.
“adam?”
“kamu mengenalnya del?”. Tanya pipin.


Penulis : Feri Yanti

Related Posts

Post a Comment