Kaum akademisi merupakan orang-orang terdidik yang seharusnya dapat menjadi pemecah masalah bagi masyarakat. Ketika terjadi suatu kasus atau masalah, orang-orang terdidik inilah yang akan menjadi tumpuan bagi masyarakat sebagai jalan keluar dari masalah tersebut. Adanya kaum akademisi di suatu daerah, seperti menjadi sebuah tiang penjaga untuk menstabilkan kondisi sosial.
Sudah menjadi sebuah realita bahwa ekspektasi masyarakat terhadap kaum akademisi sangatlah besar untuk dapat menjadi problem solver atau pemecah masalah di tengah-tengah mereka. Hal ini karena, masyarakat berpandangan bahwa kaum akademisi merupakan orang-orang yang berilmu, dan berpendidikan tinggi yang diharapkan dapat menjadi suri tauladan yang baik serta menjadi solusi bagi mereka.
Seperti yang terjadi di Desa Dwi Mulyo misalnya. Desa yang terletak di Kecamatan Penawartama, Kabupaten Tulang Bawang, Lampung ini merupakan sebuah desa yang tergolong masih baru. Pasalnya, desa ini baru berdiri pada tahun 2008 hasil pemekaran dari Desa Sidomulyo. Di desa ini, hanya ada 3 orang yang merupakan lulusan Strata Satu seperti yang dikatakan salah satu tokoh masyarakat Desa Dwi Mulyo.
“Di desa ini cuma ada tiga orang yang lulusan S1, makanya masih butuh banyak (orang terdidik)” ujar I Made Dana Putera, ketua Badan Permusyawaratan Kampung Desa Dwi Mulyo. Selain itu, I Made juga menambahkan bahwa ketiga orang lulusan strata satu tersebut selalu menjadi tujuan masyarakat untuk dimintai saran ketika terjadi masalah di Desa Dwi Mulyo.
Kasus yang baru-baru ini terjadi di desa Dwi Mulyo misalnya, kasus yang menyebabkan kesenjangan sosial di Desa Dwi Mulyo ini merupakan sebuah kasus pencemaran nama baik, yang sebenarnya hanya berawal dari hal yang sepele. Pada kasus itu, banyak warga yang kemudian tidak setuju dengan hukuman yang dibebankan terhadap terpidana dan merasa iba. Pada kondisi ini, para warga yang tidak setuju tersebut satu persatu mendatangi kediaman orang-orang terpendidik untuk sekedar meminta saran atau bahkan solusi.
Hal ini, selain menunjukan bahwa ekspektasi masyarakat yang besar terhadap kaum akademisi sebagai problem solver, juga menunjukan bahwa budaya kekerabatan di desa sudah mulai pudar.
Penulis berharap, orang-orang terpendidik dapat menjadi problem solver atau pemecah masalah bagi masyarakat dengan segala kapasitas yang ia miliki. Bukan kemudian menjadi trouble maker atau pembuat masalah dengan segala ilmu yang ia punya. Selain itu, desa-desa terpencil juga membutuhkan lebih banyak lagi akademisi untuk mendukung berkembangnya suatu daerah dan pemerataan pembangunan.
Penulis : Tri Yogi Riandika


Post a Comment
Post a Comment