Sebuah pedoman dari Al-Quran
potongan surat An-Nur ayat 2 tepatnya disebutkan, “Perempuan yang berzina dan
laki-laki yang berzina....” sekiranya memang sesuai bila di terapkan di
kehidupan sekarang ini. Perempuan pada hakikatnya ditakdirkan untuk menjadi
lentera penerang seorang laki-laki dan juga sebagai pendamping hidup yang
hakiki.
Dewasa ini perempuan justru
menjadi “mawar hitam” bagi para laki-laki, bagaimana tidak, bahkan perempuan
dalam perjuanganya menuntut ilmu guna mencapai kesetaraan intelektual dengan
kaum lelaki pun juga menyisipkan nuansa-nuansa seksualitas didirinya untuk
memikat lawan jenisnya. Sudah menjadi kebiasaan dan rutinitas bagi mereka
berpenampilan mencolok dan menonjolkan bagaian-bagian tubuh mereka.
Perempuan juga sebagai penguji
daya keimanan bagi para lelaki dengan perilaku sensual dan
fashion
mereka mengakibatkan lelaki kerap merasa dilematis terhadap apa yang mereka
hadapi. Dilema dalam hal ini apakah mereka harus serta merta menikmati perilaku
sensual para perempuan atau justru menolaknya walaupun harus melawan naluri
sendiri.
Bukan tidak mungkin bagi para
lelaki yang terus memikirkan segala bentuk tindakan dan perilaku perempuan yang
seperti itu akan berfantasi dengan apa yang mereka nikmati secara visual
tersebut. Sebaik-baiknya lelaki akan terangsang juga apabila terus menerus
diberikan terapi
Molek-Visualisasi, dan setidaknya mereka akan berzina
dikamar mandi bersama fantasi yang ada diotak mereka.
Dalam berpacaran misalnya,
meskipun lelaki memiliki kecenderungan sifat agresif akan tetapi mereka mampu
mengontrol naluri mereka, namun akan lain halnya apabila perempuanyalah yang
mempersilahkan lelakinya menjamah dirinya dengan segala bentuk
pancingan-pancingan bernada mesra ataupun penampilan seksi yang menggoda maka
zina tak terelakan dari keduanya.
Meskipun demikian mayoritas dari
para perempuan akan menyanggah bahwa dirinya dianggap sebagai pelopor Zinaisme,
mereka akan
berdalih bahwa cara mereka berperilaku, dan ber-
fashion memang
ciri khas dan tidak ada niatan sama sekali untuk memikat
lawan jenis ataupun sengaja menggoda mereka.
“ Nggak munafik sih kalo semua perempuan itu
pengen tampil seksi, tapi seksi menurutku bukan hanya menonjolkan apa yang
sudah menonjol ” jelas Mawar (bukan nama sebenarnya) salah seorang mahasiswi
yang bisa dikatakan selalu berpenampilan seksi. Menurut mawar pemikiran banyak
lelaki itu negatif padahal perempuan seperti dia dan teman-temanya hanya ingin
berpenampilan
Fashionable.
Terlepas dari banyaknya “Mawar”
yang ada di lingkungan akademisi seperti kampus dan sebagainya, perempuan yang
bersifat kekinian dengan perilaku dan model pakaian layaknya model top dunia
juga bisa dikatakan sebagai bibit awal tindakan Zina. Perempuan dengan celana
yang sangat pendek dan berkeliaran ditempat umum sangat berpotensi sebagai
korban pelecehan.
Lalu bagaimana kaum lelaki
menikmati pemandangan tersebut? Kalaupun sebagian dari para perempuan yang mengenakan
celana seperti itu risih diperhatikan terus menerus oleh mata liar kaum lelaki,
apa alternatif yang bisa dilakukan supaya para perempuan nyaman dengan
penampilan mereka dan kaum lelaki menikmati apa yang mereka lihat?
Dengan demikian sesuai dengan isi
surat dalam Al-Quran dan realitas yang terjadi, walaupun tidak keseluruhan
perempuan menjadi biang keladi adanya zina ataupun pelecehan seksual akan
tetapi secara kasat mata jelas siapa yang dapat dijadikan acuan mengapa
tindakan yang dilarang agama dan huum negara kerap terjadi.
Sejatinya perempuan sebagai
penyeimbang dan penyelaras bagi lelaki sudah seharusnya tidak membuka diri
sebagai pusat jamahan dengan tidak berperilaku dan berpenampilan yang
mengundang birahi, karena kadar keimanan dan ketahanan lelaki berbeda-beda.
Terlebih lagi hal tersebut banyak menimbulkan kebukrukan bagi kaum perempuan
dan kaum lelaki.
Penulis : Julianto Nugroho
Post a Comment
Post a Comment