Budaya Corat-Coret Seragam, Perlukah?

Post a Comment







Mungkin sudah agak kadaluwarsa tema yang ada dalam tulisan ini, akan tetapi resah hati saya apabila tak mengutarakanya. Adalah mengenai budaya corat-coret para pelajar SMA yang telah resmi dinyatakan lulus UN. Pada dasarnya perayaan akan pencapaian adalah sesuatu yang wajar dan sah-sah saja, perayaan itu sendiri memiliki model yang berbeda-beda.Misalnya perayaan Hari Raya Idul Fitri atas pencapaian puasa Ramadhan selama satu bulan penuh, perayaan berupa pesta ketika sesorang dinyatakan naik jabatan di kantornya dan masih banyak lagi. Tidak lain pula dengan perayaan yang dilakukan para pelajar yang khususnya SMA yang resmi dinyatakan lulus UN.

 Perayaan  para pelajar SMA ini dibagi menjadi dua kategori; positif dan negatif. Walaupun dibagi menjadi dua kategori faktanya kegiatan yang dilakukan para pelajar SMA yang merayakan kelulusan mayoritas cenderung mengarah ke hal-hal negatif. Contohnya adalah dari mulai mencorat-coret seragam mereka hingga ugal-ugalan dijalanan bak raja jalanan. Mirisnya hal demikian telah menjadi tradisi, kultur, bahkan budaya disetiap tahunya.

Kenapa hal tersebut menurut saya negatif? Karena berdasarkan data yang ada pada tahun 2015 setidaknya 35 pelajar meninggal dunia dikarenakan konvoi ugal-ugalan ketika merayakan kelulusan, masing-masing dari mereka berasal dari SMA di Pontianak, Cilacap, Yogyakarta, Boyolali, dan Madura. Selain mati nganggur para pelajar SMA juga cenderung bertingkah liar pada saat-saat seperti itu.

Seperti di Boyolali belum lama ini dimana para pelajar SMA dihajar warga karena membuat kegaduhan di salah satu kampung di Tlatar, Boyolali. Sebenarnya mereka telah diperingati oleh warga untuk tidak melakukan iring-iringan di kampung tersebut karena membahayakan bagi anak kecil yang gemar bermain di pinggiran jalan, akan tetapi sama sekali tak diindahkan hingga mereka mendapat Bogem dari para warga.
Selain itu sebenarnya apa yang mereka lakukan juga merugikan apabila ditinjau dari aspek ekonomi. Mereka jelas akan menghamburkan uang untuk membeli cat pilok yang akan digunakan mewarnai seragam bahkan rambut mereka, juga akan menghamburkan bensin untuk konvoi yang sebenarnya tidak terlalu bermanfaat sama sekali.


Meskipun fakta mengatakan banyak Mudharat dari kegiatan tersebut, lantas mengapa ini terus berlanjut? Ada jawaban yang menurut saya bisa dijadikan alasan kenapa mereka melakukanya. Pertama karena belum mampu atau bahkan bisa dikatakan gagalnya sistem pendidikan membentuk pribadi pelajar yang baik, mereka cenderung lebih menganggap sekolah sebagai “penjara” daripada instansi pendidikan yang nyaman dan menyenangkan.

Maksudnya sistem pendidikan yang kurang tepat contohnya adalah mengenai sistem peringkat kelas yang mana pelajar yang mampu mengerjakan mata pelajaran dengan baik akan mendapatkan nilai yang bagus lalu memperoleh peringkat didalam kelas, sedangkan mereka yang kurang mampu mengerjakan mata pelajaran seperti Matematika dan sejenisnya akan dianggap bodoh dan tidak mendapatkan peringkat.

Padahal manusia dilahirkan dengan multitalenta. Tidak bisa kemudian men-judge mereka yang tidak mahir dalam ilmu eksak itu bodoh, bisa saja mereka ahli dalam bidang olahraga, kesenian dan sebagainya. Menarik kemudian apabila mengutip tulisan Bang Endri Kalianda, “sebab, puluhan mata pelajaran yang kemudian menjadi sampah pengetahuan itu. Benar-benar tak menambah keahlian”.

Bisa saja dari situlah para pelajar SMA menganggap bahwa sekolah merupakan lembaga pendidikan yang kurang nyaman. Sehingga mereka akan merasa sangat bahagia dan lega ketika dinyatakan lulus dari sekolah yang mereka sebut “penjara” itu. Kemudian luapan kebahagiaan itu mereka lepaskan dengan cara sseperti mencoret seragam dan ugal-ugalan untuk menunjukan eksistensi mereka bahwa mereka telah bebas dari "penjara".

Terlepas dari kegiatan negatif tersebut sebenarnya ada beberapa dari mereka yang ternyata melakukan kegiatan-kegiatan yang lebih bermanfaat saat merayakan kelulusan. Yaitu ada beberapa SMA di Yogyakarta dan Jawa Timur melakukan kegiatan sosial dari mulai membagikan nasi bungkus dan susu ke tukang becak, hingga sujud syukur. Jauh lebih arif apabila dibandingkan dengan aksi “liar” pelajar diatas tadi.

Kemudian apa yang dapat dilakukan menyikapi pelajar SMA yang merayakan kelulusan dengan corat-coret seragam dan ugal-ugalan? Ada beberapa alternatif yaitu; adakan kegiatan positif untuk mengantisipasi sikap “liar” mereka seperti lomba band, atau lomba modifikasi motor antar sekolah yang diadakan di ruang publik tujuanya untuk menyalurkan “kegilaan” mereka terhadap motor dan hiburan band sebagai passion mereka.

Selain itu untuk mengantisipasi corat-coret seragam yang sebenarnya masih memiliki nilai usibilitasnya, sekolah bisa saja menyediakan Banner berukuran besar untuk mereka mencorat-coret sesuka hati termasuk tanda tangan mereka yang juga diabadikan di Banner tersebut, kemudian Banner disimpan oleh pihak sekolah sebagai kenang-kenangan.

Sebenarnya hal tersebut sudah pernah dilakukan oleh SMAN 3 Wonogiri di Jawa Tengah, yang ternyata bisa mengontrol jumlah siswa yang melakukan corat-coret seragam dan ugal-ugalan. Meskipun tidak bisa sepenuhnya menghentikan sejumlah pelajar yang nekat menyemprot pilok ke seragamnya akan tetapi bisa memberikan kontrol dan meminimalisir.


Penulis: Julianto Nugroho

Related Posts

Post a Comment