Cintai Aku Karena Allah

Post a Comment



Suasana dinding yang bercat abu-abu menambah pilu  hati seorang laki-laki yang kini tengah duduk di sebelah ranjang sambil memegangi sebuah tangan yang dibaluti jarum infus. Laki-laki itu kini tengah terisak memandangi sosok wanita yang terbaring lemah dihadapannya. Air matanyalah yang mampu menggambarkan segala kepedihan yang tengah melandanya. Melihat sosok wanita yang amat begitu dicintainya. Memandangi sosok wanita yang berhasil merebut segenap jiwa dan raganya. Memandangi sosok wanita yang mampu mengantarkannya untuk mengenal dan lebih dekat pada Sang Pemberi Kehidupan. Namun kini wanita tersebut sama sekali tidak membuka matanya. Tubuhnya terlihat kurus dengan balutan baju warna hijau. Pipinya terlihat tirus. Sosok wanita itu terkulai lemah tak berdaya. Mubarak yang sedari tadi memandangi wajahnya sambil melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an padanya.
Ia tak pernah menyangka sosok wanita tegar, mandiri dan dewasa yang ia kenal ternyata selama ini menyembunyikan penyakit yang cukup mematikan. Kanker payudara. Operasi yang dijalankan memang berhasil. Namun Vita mengalami pendarahan hebat sehingga menyebabkan ia koma selama 2 hari. Beberapa saat kemudian Vita bisa membuka matanya perlahan dengan menggerakkan jari jemarinya yang dipegang oleh Mubarak. Saat itu juga Mubarak menoleh menatap Vita. Ia tampak lega. Keluarga, kerabat dan teman-teman Vita pun ikut berkumpul dalam ruangan itu. Namun Vita tak mampu mengucapkan sepatah katapun. Dicarinya sosok Ibunda tercinta yang kini menangis dalam pelukan Sang Ayah. Ia mengedipkan mata pada Sang Ibunda. Isyarat ia tidak apa-apa. Setelah itu dipandanginya semua orang yang berkumpul dalam ruangan itu. Disana ada Sukma,sahabatnya. Ada Mas Ari, ada Faiza dan teman-temannya. Dan terakhir ia memandangi sosok laki-laki yang duduk disampingnya. Laki-laki itu tersenyum. Vita mengerti betul kekhawatiran dan kecemasan lewat tatapan matanya. Laki-laki yang telah merebut hatinya. Laki-laki yang selalu dido’akannya dalam sujudnya. Vita mencoba untuk mengucapkan sepatah kata pada laki-laki itu walaupun sedikit terbata-bata.
“m,,,,ma...s..m..mu..b....ba...r..rak”
“iya Vita. Jangan bicara dulu kalau masih sakit.”
Vita mencoba menggelengkan kepala sebagai jawabannya.
“ada apa Vita? Aku akan menunggumu sampai kamu sembuh benar. Setelah itu kita bisa menikah. Bukankah itu harapan terbesarmu?”
Vita mengedipkan mata. Tak terasa air matanya menetes dipipinya.
“O.. ya tahukah kamu Vita. Aku membawa ini.” Kata Mubarak sambil menyodorkan kotak cincin di depan mata Vita.
“Aku dulu ingin membelikanmu sebagai kenang-kenangan. Tapi kamu menolaknya. Kamu bilang, kamu hanya menerima jika itu dari calon suamimu. Sekarang akulah calon suamimu. Aku mencintaimu Vita. Aku mencintaimu karena-Nya. Cintaku benar-benar tulus dan ikhlas.
“t..ta..pi. a..ku.. ti..dak. bi.. sa...” jawab Vita
“ssssst... jangan bicara seperti itu. Mas yakin kamu akan sembuh.
“t..ti..dak. m..mas. m..maafkan a...aku. a..ku men..cin..taimu.. mas.
seketika itu Vita menutup matanya untuk selamanya. Mubarak yang menyadarinya hanya bisa menunduk dan menangis. Sang Ibunda lari menuju putrinya. Memeluk sang putri. Kini putrinya telah dipanggil oleh Sang Pemberi Kehidupan. Mau tak mau ia harus mengikhlaskannya agar putrinya tenang disana. Ia yakin putrinya akan bahagia di sana. Di Syurganya. Tempat kembali yang diidamkan bagi setiap hamba.
 
Pagi-pagi sekali Vita sudah berada di Kampus. Ia adalah seorang mahasiswi dari Prodi Pendidikan Agama Islam. Ia sudah menginjak semester 4. Selain akademisnya yang bagus, ia juga seorang aktivis. Maka tak jarang para senior banyak yang mengaguminya. Nama lengkapnya adalah Vita Khairunnisa. Tubuhnya yang semampai tampak apik dibaluti jilbab panjangnya. Matanya yang bulat serta pipinya yang tembam begitu menambah ayu pada wajahnya yang manis. Kini ia sedang asyik duduk disudut perpustakaan menekuni setumpuk buku yang ada didepannya. Sesekali ia membenarkan posisi kacamata yang bertengger di wajahnya. Ketekunannya membaca buku-buku itu membuatnya mengabaikan seluruh keadaan disekitarnya. Ia begitu menikmati dunia bacanya. Sampai-sampai ia tak mengetahui bahwa ada sosok laki-laki yang sedari tadi memandanginya. Laki-laki itu sangat menikmati keindahan Vita. Laki-laki itu adalah Mubarak. Nama lengkapnya Abbi Mubarak. Ia juga salah satu mahasiswa di IAIN  Raden Intan Lampung. Ia berasal dari prodi Perbankan Syariah semester 6. Sudah lama diam-diam ia mengagumi Vita.
Pada saat itu, ia tak sengaja menghadiri sebuah pengajian Akbar Seluruh Mahasiswa IAIN Raden Intan Lampung dalam menyambut tahun baru Hijriah. Kebetulan dalam acara tersebut Vita yang menjadi moderator mendampingi sang Pemateri. Awalnya Mubarak hanya berniat iseng karena malas masuk jam kuliah. Namun ternyata ia begitu merasa tenang menghadiri pengajian itu. Matanya sama sekali tak berkedip melihat keanggunan Vita yang mengenakan jilbab bermotif bunga gradasi ungu kala itu. Disamping pribadinya yang begitu agamis. Ia juga cerdas. Banyak dari kalangan Mahasiswa yang mengenalnya. Tampaknya Mubarak telah jatuh cinta saat itu pula. Ya cinta pertama.
Sudah sekitar 1 semester Mubarak selalu mengawasi dan mengikuti segala kegiatan yang dilakukan Vita.  Baik ketika gadis itu sedang di Perpustakaan Kampus, sedang di Masjid Kampus ataupun ketika Vita tengah menikmati hamparan embung yang berada di Depan Gedung Rektorat IAIN Raden Intan Lampung. Sebenarnya bisa saja Mubarak mengungkapkan segala rasa dalam hatinya pada Vita. Namun entah, ia merasa seolah ada bisikan bahwa untuk sekarang ini bukan waktu yang tepat untuk bermain perasaan dengan Vita. Ia takut Vita terluka. Ia ingin mengungkapkan jika sudah tepat waktunya kelak. Karena baginya Vita adalah sosok wanita berbeda dari sekian mantan pacarnya.
Hendra yang kini sedang memilah – milah Buku Bisnis Islam di bagian lorong sebelah kanan memperhatikan sahabat karibnya tengah menikmati Bidadarinya. Ia membawa sekitar 5 buku yang cukup tebal kearah meja Mubarak. Sontak saja Mubarak terkejut dibuatnya.
“Hey, pagi-pagi ngelamun lo. Kata orang Jawa egak bagus”. Kata Hendra sambil menyenggol bahu Mubarak.
“ah sialan lo... Gua tinggal di Lampung bukan di Jawa” sungut Mubarak.
“Hahaha. Tapi nenek moyang lo asli Jawa kan?” selidik Hendra.
“ah berisik lo ndra”.
Vita yang mendengar keributan Mubarak dan Hendra hanya melirik pada keduanya.
Mubarak menyadari bahwa Vita merasa terganggu oleh ulah Hendra. Ia segera mengucapkan maaf dengan seumbar senyum terbaik yang dimilikinya pada Vita.
“eh.. maaf yak dek.” Kata Mubarak.
Vita hanya mengangguk dan menunduk.
Mubarak dibuat kikuk oleh tingkah Vita. Selama ini ia belum pernah mendengar Vita mengucapkan sepatah katapun padanya. Padahal dimatanya Vita adalah sosok wanita yang pandai dalam berorasi. Karena merasa lamunannya terganggu akibat ulah Hendra. Mubarak langsung bergegas menuju pintu keluar. Hendra yang duduk disampingnya tampak memasang muka bingung. Sontak saja Hendra langsung membuntuti Mubarak dengan setumpuk buku ditangannya.
“Eh, Coy. Tunggu dong! ah lo!!” teriak Hendra.
Namun Mubarak masih tidak memperdulikannya. Ia merasa sedikit kesal pada Hendra karena telah merusak kenikmatannya memandangi Vita. Ini  merupakan hal yang biasa antara ia dan Hendra. Keduanya  merupakan teman akrab. Bisa dibilang sahabat karib. Dimanapun ada Mubarak pasti ada Hendra. Kebetulan orang tua Hendra adalah Pebisnis. Sehingga mereka sering pergi keluar Kota. Hendra adalah anak tunggal dalam keluarganya. Ia merasa sendiri  jika orang tuanya sedang pergi keluar kota. Hendra sering menginap dirumah Mubarak. Tentu hal ini menambah keakraban mereka berdua. Hendra sudah mengetahui bahwa Mubarak menyimpan rasa untuk Vita. Si junior yang cukup tenar di Kampus. Kini Hendra mendapati sahabatnya masuk kelas.
‘Eh, parah lu. Gua panggil-panggilin enggak nengok-nengok” kata Hendra.
“ya lunya sih reseh”
“haha, sorry. Lagian lu pagi-pagi udah nyari dosa”
“maksud lu?” tanya Mubarak sambil mengernyitkan dahi.
“lu pernah denger ceramah Ustadz Arifin egak? Di masjid deket rumah lu itu? Beliau bilang laki-laki itu dilarang melihat wanita yang bukan muhrim”
“ah gaya lu ndra”
“ah lu bi, nama lu itu emang bagus sih. Keagamaan gitu. Tapi tingkah lu. Astaghfirullah”
“sialan lu. Liat aja kalok Cahaya Illahi nyamperin gue”.
“malaikat pencabut nyawa maksud lu?” ledek Hendra.
“eh, awas ya lu ndra” kata Mubarak sambil mengepalkan tinju pada Hendra.
Tanpa disengaja ia menginjak sepatu milik sosok wanita yang berada dibelakangnya. Wanita itu tampak kesakitan.
“aduh”  kata wanita itu dengan suara lembut.
Mubarak yang menyadari langsung menoleh ke belakang menghadap gadis itu. Gadis itu adalah Faiza. Sosok wanita yang sempat dikaguminya sejak awal masuk kuliah. Namun kini hatinya telah beralih pada Vita Khairunnisa. Mubarak tahu betul bahwa Faiza menyimpan rasa untuknya. Hanya saja ia pura-pura tidak tahu. Keinginan kerasnya untuk mendapatkan Vita telah mengahalangi semua. Kebiasaanya bergonta-ganti pasangan sejak duduk di bangku SMA kini seolah hilang seiring waktu. Baginya mudah sekali menjalin hubungan dengan beberapa wanita di Kampus. Karena sosoknya yang lumayan gagah dan cukup tampan. Membuat para wanita yang berada disekitarnya cukup mengaguminya. Kebetulan ia sering mewakili Kampus mengikuti lomba renang antar Kota. Namun sudah sekitar satu semester ini semenjak ia putus dari Diah. Teman sekelasnya sendiri membuatnya bertahan untuk melajang. Seolah Mubarak tidak mempunyai gairah untuk menjalin hubungan dengan wanita-wanita lain jika ia belum mampu menaklukkan hati Vita. Bidadari yang selalu hadir dalam mimpinya. Alih- alih mengucapkan maaf atau apapun pada Faiza. Mubarak langsung berjalan pergi menjauh dari Faiza. Ia kembali duduk di bangkunya. Hendra yang melihat pemandangan demikian hanya menggelengkan kepala melihat tingkah sahabatnya. Sungguh keterlaluan batin Hendra. Ia mencoba berjalan menghampiri Faiza yang masih berdiri terpaku melihat tingkah Mubarak yang sedingin itu padanya. Tiba-tiba Faiza dikejutkan oleh suara yang tak asing lagi baginya.
“Jangan di ambil hati. Dia mah emang begitu orangnya.” Kata Hendra pada Faiza.
“Iya enggak papa. Biasa aja. Mungkin suasana hatinya sedang buruk.” Jawab Farida sambil tersenyum.
“ah ya sudah. Ngomong-ngomong tugas resume mu dari Pak Guntur udah kelar belum?” tanya hendra sedikit mencairkan suasana pagi itu.
“alhamdulillah udah. Kalok kamu?”
“wah.. jangan ditanya kalau gua mah. Belum. Hehehe” jawab hendra sambil menunjukkan barisan giginya.
Faiza tidak menjawab apa-apa. Ia hanya membalas Hendra dengan senyuman. Memang begitulah Faiza. Gadis yang begitu pendiam. Agamis pula. Bia disandingkan dengan Vita. Sebenarnya keduanya memiliki sosok yang sama. Sama-sama memakai jilbab panjang. Sosok yang cerdas dan solehah. Namun entah apa yang membuat Mubarak menjadi berpaling dari Faiza. Seolah Faiza hanya mampir sebentar dalam hatinya lalu bergegas pergi berganti ke singgahan hati Vita. Memang perasaan tidak pernah ada yang tahu. Ada kalanya ia bersemi dalam hati seorang insan dalam waktu yang lama. Namun adapula yang sirna seketika tanpa datangnya badai dan ombak, ia seolah lenyap tanpa ada bekas apapun. Begitulah cinta. Sebuah perasaan yang datangnya dari Sang Maha Pemberi Hidup. Sebuah rasa yang merupakan anugerah dari Sang Maha Cinta yang melekat di hati setiap insan. Hanya saja sekian banyak dari mereka banyak yang tak mampu memahaminya dengan baik sehingga rasa itu menjadi bencana dan fitnah bagi mereka yang memuja-muja cinta tanpa dasar cinta pada Sang Maha Cinta.
Mungkin hal semacam inilah yang ingin diraih Mubarak kerika rasa dalam hatinya itu muncul untuk Vita. Seolah ada dorongan kuat dalam dirinya bahwa ia ingin menjalin cinta yang sebenar-benarnya. Cinta yang hakiki.


 
Sudah sekitar satu jam Vita berkutat dengan buku-bukunya. Sesekali ia menuliskan hal-hal penting dalam buku kecilnya. Ia begitu menikmati dunia bacanya. Memang itulah Vita. Seorang gadis yang hanya menghabiskan waktunya untuk membaca buku sebanyak-banyaknya. Sepertinya hal itu sudah menjadi kebiasaanya dari kecil. Sepanjang hidupnya ia selalu disuguhi hal-hal positif dari kedua orang tuanya. Membaca buku, belajar dan mengaji. Sehingga tak heran lagi ia tumbuh menjadi sosok wanita solehah yang cerdas. Yang memiliki semangat dalam setiap langkah kakinya. Kecintaannya pada buku-buku membuatnya selalu ingin berbagi ilmunya yang sudah didapatkannya dari membaca lewat ia menjadi seorang pemateri untuk mengisi pengajian mingguan di kampus. Selain itu, ia juga seorang pengajar TPA di komplek rumahnya. Sepertinya jiwa keibuan yang diwarisi oleh sang Ibunda mampu membuatnya menjadi seorang pendidik bagi anak muridnya di TPA tempat ia mengajar. Itulah rutinitas Vita. Selain menjadi seorang Mahasiswi, Aktivis dan Pendidik ia juga sering dipanggil dalam acara-acara besar Kampus berkat kepiawaiannya dalam berbicara. Meski pendiam, ia termasuk sosok yang ramah. Hanya saja ia tetap berjaga jarak dengan laki-laki yang ada disekitarnya. Sebenarnya Vita menyadari banyak laki-laki yang tertarik padanya bahkan sempat ada yang ingin mempersuntingnya. Namun Vita sama sekali belum memiliki kesiapan akan hal itu. Vita tidak ingin disibukkan dengan hal-hal kurang bermanfaat seperti itu. Memikirkan cinta yang dalam pandangannya banyak yang tersakiti oleh karenanya. Ia hanya ingin fokus pada dirinya umtuk saat ini. Ia yakin ada saatnya nanti untuk memikirkan semua itu. Ya memikirkan cinta yang memang sudah pantas ia dapatkan. Ia yakin Sang Maha Cinta sudah menyiapkan sosok yang baik untuknya. Sosok yang mencintianya karena Snag Maha Cinta. Vita sangat yakin akan hal itu.
Ketika ia tengah membawa sebagian buku-buku itu untuk dikembalikan ke tempat semula. Ia dikagetkan dengan sosok Sukma yang tiba-tiba menyentuh pundaknya.
“ternyata kamu disini. Huh. Aku cairiin kemana-mana”. Kata Sukma dengan suaranya khas.
“ya seharusnya kamu sudah tahu kebiasaanku disini. Jawab Vita datar.
Ia masih tetap fokus merapikan buku-buku yang dipinjamnya tadi.
“Mas Ari mencarimu. Dia bilang ingin berdiskusi denganmu mengenai Seminar bulan depan.”
“loh? Kenapa aku?” bukannya mbak Faiza yang menjadi koordinator untuk acara itu?”
Tanya Vita dengan nada sedikit bingung.
“entah. Aku juga kurang tahu.” Ya mungkin Mas Ari kangen padamu. Setidaknya bagi dia melihat wajahmu sebentar sudah cukup.”
“astaghfirullah sukma. Ngawur kamu”. Jaga bicaramu!” Kata Vita dengan nada cukup kesal.
“iya-iya, afwan deh”. Kalau boleh tau kenapa kamu menolak mas Ari?”
“menolak?” tanya Vita sambil melotot tajam pada Sukma.
ia langsung bergegas meninggalkan Sukma dan berjalan keluar dari Gedung Perpustakaan. Sukma yang menyadari ditinggal oleh sahabatnya itu langsung berlari menyusul Vita. Ia berlari mengikuti langkah kaki Vita.
“Vita!! Tunggu!!” Teriak Sukma.
namun Vita tak menghiraukannya. Ia sedikit kesal pada sahabatnya itu mengenai pernyataan sukma yang menganggap bahwa dirinya sudah menolak Mas Ari. Vita berpikir sepertinya ia tidak  pernah melontarkan penolakan pada Ari. Bahkan iapun tak menjawab apa-apa mengenai perasaan Ari padanya yang sudah banyak diketahuai oleh teman-teman satu organisasinya. Karena merasa ia sudah berjalan jauh dari Sukma. Ia memutuskan untuk duduk di bawah pohon. Sukma yang mengikuti langkahnya tampak kelelahan.
“Ya Allah Vita. Tega kamu?” kata Sukma dengan napas ngos-ngosan.
“kan aku sudah berkali-kali bilang sama anti. Jangan pernah bahas tentang  Mas Ari. Dan kok bisa-bisanya kamu bilanng aku menolak Mas Ari?” Memang aku pernah melakukannya?”
“iya-iya afwan. Tapi menurutku tingkah mu itu seolah menolak Mas Ari. Kamu bersikap dingin padanya.” Jelas Sukma.
“ya Allah Sukma. Anti kan tau sendiri aku egak suka bicara perasaan atau apapun itu”.
“tapi Mas Ari menyimpan perasaan padamu. Ia ingin kamu menjadi kekasihnya”.
“aku tidak berharap seseorang yang menginginkan ku sebagai kekasihnya”.
“lantas?” tanya Sukma heran.
“tapi menjadi istrinya”. Jawab Vita tegas.
“hm.. ya aku tau. Kamu tetap bersikeras dengan prinsipmu itu. Tidak ada pacaran tapi langsung menikah.” Kata Sukma dengan nada pasrah.
“nah. Anti sendiri tau kan hal itu”.
“hmm. Ya sudah. Ini tadi aku dibawain bude.” Kata Sukma sambil menyodorkan kotak makan.
“bude lastri maksudmu?”
“iya. Ibunya mas Mubarak. Kebetulan tadi aku mampir.
Bersambung dulu ya...... J


Penulis :  May Farida Nur Afaf (Mahasiswa IAIN Raden Intan)

Related Posts

Post a Comment