Suasana
dinding yang bercat abu-abu menambah pilu
hati seorang laki-laki yang kini tengah duduk di sebelah ranjang sambil
memegangi sebuah tangan yang dibaluti jarum infus. Laki-laki itu kini tengah
terisak memandangi sosok wanita yang terbaring lemah dihadapannya. Air
matanyalah yang mampu menggambarkan segala kepedihan yang tengah melandanya.
Melihat sosok wanita yang amat begitu dicintainya. Memandangi sosok wanita yang
berhasil merebut segenap jiwa dan raganya. Memandangi sosok wanita yang mampu
mengantarkannya untuk mengenal dan lebih dekat pada Sang Pemberi Kehidupan.
Namun kini wanita tersebut sama sekali tidak membuka matanya. Tubuhnya terlihat
kurus dengan balutan baju warna hijau. Pipinya terlihat tirus. Sosok wanita itu
terkulai lemah tak berdaya. Mubarak yang sedari tadi memandangi wajahnya sambil
melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an padanya.
Ia
tak pernah menyangka sosok wanita tegar, mandiri dan dewasa yang ia kenal
ternyata selama ini menyembunyikan penyakit yang cukup mematikan. Kanker payudara.
Operasi yang dijalankan memang berhasil. Namun Vita mengalami pendarahan hebat
sehingga menyebabkan ia koma selama 2 hari. Beberapa saat kemudian Vita bisa
membuka matanya perlahan dengan menggerakkan jari jemarinya yang dipegang oleh
Mubarak. Saat itu juga Mubarak menoleh menatap Vita. Ia tampak lega. Keluarga,
kerabat dan teman-teman Vita pun ikut berkumpul dalam ruangan itu. Namun Vita
tak mampu mengucapkan sepatah katapun. Dicarinya sosok Ibunda tercinta yang
kini menangis dalam pelukan Sang Ayah. Ia mengedipkan mata pada Sang Ibunda.
Isyarat ia tidak apa-apa. Setelah itu dipandanginya semua orang yang berkumpul
dalam ruangan itu. Disana ada Sukma,sahabatnya. Ada Mas Ari, ada Faiza dan
teman-temannya. Dan terakhir ia memandangi sosok laki-laki yang duduk
disampingnya. Laki-laki itu tersenyum. Vita mengerti betul kekhawatiran dan
kecemasan lewat tatapan matanya. Laki-laki yang telah merebut hatinya.
Laki-laki yang selalu dido’akannya dalam sujudnya. Vita mencoba untuk mengucapkan
sepatah kata pada laki-laki itu walaupun sedikit terbata-bata.
“m,,,,ma...s..m..mu..b....ba...r..rak”
“iya Vita. Jangan bicara dulu kalau masih sakit.”
“iya Vita. Jangan bicara dulu kalau masih sakit.”
Vita
mencoba menggelengkan kepala sebagai jawabannya.
“ada apa Vita? Aku akan menunggumu sampai kamu sembuh benar. Setelah itu kita bisa menikah. Bukankah itu harapan terbesarmu?”
Vita mengedipkan mata. Tak terasa air matanya menetes dipipinya.
“O.. ya tahukah kamu Vita. Aku membawa ini.” Kata Mubarak sambil menyodorkan kotak cincin di depan mata Vita.
“ada apa Vita? Aku akan menunggumu sampai kamu sembuh benar. Setelah itu kita bisa menikah. Bukankah itu harapan terbesarmu?”
Vita mengedipkan mata. Tak terasa air matanya menetes dipipinya.
“O.. ya tahukah kamu Vita. Aku membawa ini.” Kata Mubarak sambil menyodorkan kotak cincin di depan mata Vita.
“Aku
dulu ingin membelikanmu sebagai kenang-kenangan. Tapi kamu menolaknya. Kamu
bilang, kamu hanya menerima jika itu dari calon suamimu. Sekarang akulah calon
suamimu. Aku mencintaimu Vita. Aku mencintaimu karena-Nya. Cintaku benar-benar
tulus dan ikhlas.
“t..ta..pi.
a..ku.. ti..dak. bi.. sa...” jawab Vita
“ssssst... jangan bicara seperti itu. Mas yakin kamu akan sembuh.
“t..ti..dak. m..mas. m..maafkan a...aku. a..ku men..cin..taimu.. mas.
seketika itu Vita menutup matanya untuk selamanya. Mubarak yang menyadarinya hanya bisa menunduk dan menangis. Sang Ibunda lari menuju putrinya. Memeluk sang putri. Kini putrinya telah dipanggil oleh Sang Pemberi Kehidupan. Mau tak mau ia harus mengikhlaskannya agar putrinya tenang disana. Ia yakin putrinya akan bahagia di sana. Di Syurganya. Tempat kembali yang diidamkan bagi setiap hamba.
“ssssst... jangan bicara seperti itu. Mas yakin kamu akan sembuh.
“t..ti..dak. m..mas. m..maafkan a...aku. a..ku men..cin..taimu.. mas.
seketika itu Vita menutup matanya untuk selamanya. Mubarak yang menyadarinya hanya bisa menunduk dan menangis. Sang Ibunda lari menuju putrinya. Memeluk sang putri. Kini putrinya telah dipanggil oleh Sang Pemberi Kehidupan. Mau tak mau ia harus mengikhlaskannya agar putrinya tenang disana. Ia yakin putrinya akan bahagia di sana. Di Syurganya. Tempat kembali yang diidamkan bagi setiap hamba.
Pagi-pagi
sekali Vita sudah berada di Kampus. Ia adalah seorang mahasiswi dari Prodi
Pendidikan Agama Islam. Ia sudah menginjak semester 4. Selain akademisnya yang
bagus, ia juga seorang aktivis. Maka tak jarang para senior banyak yang
mengaguminya. Nama lengkapnya adalah Vita Khairunnisa. Tubuhnya yang semampai tampak
apik dibaluti jilbab panjangnya. Matanya yang bulat serta pipinya yang tembam
begitu menambah ayu pada wajahnya yang manis. Kini ia sedang asyik duduk
disudut perpustakaan menekuni setumpuk buku yang ada didepannya. Sesekali ia
membenarkan posisi kacamata yang bertengger di wajahnya. Ketekunannya membaca buku-buku
itu membuatnya mengabaikan seluruh keadaan disekitarnya. Ia begitu menikmati
dunia bacanya. Sampai-sampai ia tak mengetahui bahwa ada sosok laki-laki yang
sedari tadi memandanginya. Laki-laki itu sangat menikmati keindahan Vita.
Laki-laki itu adalah Mubarak. Nama lengkapnya Abbi Mubarak. Ia juga salah satu
mahasiswa di IAIN Raden Intan Lampung.
Ia berasal dari prodi Perbankan Syariah semester 6. Sudah lama diam-diam ia
mengagumi Vita.
Pada
saat itu, ia tak sengaja menghadiri sebuah pengajian Akbar Seluruh Mahasiswa
IAIN Raden Intan Lampung dalam menyambut tahun baru Hijriah. Kebetulan dalam
acara tersebut Vita yang menjadi moderator mendampingi sang Pemateri. Awalnya
Mubarak hanya berniat iseng karena malas masuk jam kuliah. Namun ternyata ia
begitu merasa tenang menghadiri pengajian itu. Matanya sama sekali tak berkedip
melihat keanggunan Vita yang mengenakan jilbab bermotif bunga gradasi ungu kala
itu. Disamping pribadinya yang begitu agamis. Ia juga cerdas. Banyak dari
kalangan Mahasiswa yang mengenalnya. Tampaknya Mubarak telah jatuh cinta saat
itu pula. Ya cinta pertama.
Sudah
sekitar 1 semester Mubarak selalu mengawasi dan mengikuti segala kegiatan yang
dilakukan Vita. Baik ketika gadis itu
sedang di Perpustakaan Kampus, sedang di Masjid Kampus ataupun ketika Vita
tengah menikmati hamparan embung yang berada di Depan Gedung Rektorat IAIN
Raden Intan Lampung. Sebenarnya bisa saja Mubarak mengungkapkan segala rasa
dalam hatinya pada Vita. Namun entah, ia merasa seolah ada bisikan bahwa untuk
sekarang ini bukan waktu yang tepat untuk bermain perasaan dengan Vita. Ia
takut Vita terluka. Ia ingin mengungkapkan jika sudah tepat waktunya kelak.
Karena baginya Vita adalah sosok wanita berbeda dari sekian mantan pacarnya.
Hendra
yang kini sedang memilah – milah Buku Bisnis Islam di bagian lorong sebelah
kanan memperhatikan sahabat karibnya tengah menikmati Bidadarinya. Ia membawa
sekitar 5 buku yang cukup tebal kearah meja Mubarak. Sontak saja Mubarak
terkejut dibuatnya.
“Hey,
pagi-pagi ngelamun lo. Kata orang Jawa egak bagus”. Kata Hendra sambil
menyenggol bahu Mubarak.
“ah
sialan lo... Gua tinggal di Lampung bukan di Jawa” sungut Mubarak.
“Hahaha.
Tapi nenek moyang lo asli Jawa kan?” selidik Hendra.
“ah berisik lo ndra”.
Vita yang mendengar keributan Mubarak dan Hendra hanya melirik pada keduanya.
“ah berisik lo ndra”.
Vita yang mendengar keributan Mubarak dan Hendra hanya melirik pada keduanya.
Mubarak
menyadari bahwa Vita merasa terganggu oleh ulah Hendra. Ia segera mengucapkan
maaf dengan seumbar senyum terbaik yang dimilikinya pada Vita.
“eh..
maaf yak dek.” Kata Mubarak.
Vita
hanya mengangguk dan menunduk.
Mubarak
dibuat kikuk oleh tingkah Vita. Selama ini ia belum pernah mendengar Vita
mengucapkan sepatah katapun padanya. Padahal dimatanya Vita adalah sosok wanita
yang pandai dalam berorasi. Karena merasa lamunannya terganggu akibat ulah
Hendra. Mubarak langsung bergegas menuju pintu keluar. Hendra yang duduk
disampingnya tampak memasang muka bingung. Sontak saja Hendra langsung
membuntuti Mubarak dengan setumpuk buku ditangannya.
“Eh,
Coy. Tunggu dong! ah lo!!” teriak Hendra.
Namun
Mubarak masih tidak memperdulikannya. Ia merasa sedikit kesal pada Hendra karena
telah merusak kenikmatannya memandangi Vita. Ini merupakan hal yang biasa antara ia dan
Hendra. Keduanya merupakan teman akrab.
Bisa dibilang sahabat karib. Dimanapun ada Mubarak pasti ada Hendra. Kebetulan orang
tua Hendra adalah Pebisnis. Sehingga mereka sering pergi keluar Kota. Hendra
adalah anak tunggal dalam keluarganya. Ia merasa sendiri jika orang tuanya sedang pergi keluar kota.
Hendra sering menginap dirumah Mubarak. Tentu hal ini menambah keakraban mereka
berdua. Hendra sudah mengetahui bahwa Mubarak menyimpan rasa untuk Vita. Si
junior yang cukup tenar di Kampus. Kini Hendra mendapati sahabatnya masuk
kelas.
‘Eh,
parah lu. Gua panggil-panggilin enggak nengok-nengok” kata Hendra.
“ya
lunya sih reseh”
“haha,
sorry. Lagian lu pagi-pagi udah nyari dosa”
“maksud lu?” tanya Mubarak sambil mengernyitkan dahi.
“lu pernah denger ceramah Ustadz Arifin egak? Di masjid deket rumah lu itu? Beliau bilang laki-laki itu dilarang melihat wanita yang bukan muhrim”
“maksud lu?” tanya Mubarak sambil mengernyitkan dahi.
“lu pernah denger ceramah Ustadz Arifin egak? Di masjid deket rumah lu itu? Beliau bilang laki-laki itu dilarang melihat wanita yang bukan muhrim”
“ah
gaya lu ndra”
“ah lu bi, nama lu itu emang bagus sih. Keagamaan gitu. Tapi tingkah lu. Astaghfirullah”
“sialan lu. Liat aja kalok Cahaya Illahi nyamperin gue”.
“malaikat pencabut nyawa maksud lu?” ledek Hendra.
“eh, awas ya lu ndra” kata Mubarak sambil mengepalkan tinju pada Hendra.
“ah lu bi, nama lu itu emang bagus sih. Keagamaan gitu. Tapi tingkah lu. Astaghfirullah”
“sialan lu. Liat aja kalok Cahaya Illahi nyamperin gue”.
“malaikat pencabut nyawa maksud lu?” ledek Hendra.
“eh, awas ya lu ndra” kata Mubarak sambil mengepalkan tinju pada Hendra.
Tanpa
disengaja ia menginjak sepatu milik sosok wanita yang berada dibelakangnya.
Wanita itu tampak kesakitan.
“aduh”
kata wanita itu dengan suara lembut.
Mubarak
yang menyadari langsung menoleh ke belakang menghadap gadis itu. Gadis itu
adalah Faiza. Sosok wanita yang sempat dikaguminya sejak awal masuk kuliah.
Namun kini hatinya telah beralih pada Vita Khairunnisa. Mubarak tahu betul
bahwa Faiza menyimpan rasa untuknya. Hanya saja ia pura-pura tidak tahu.
Keinginan kerasnya untuk mendapatkan Vita telah mengahalangi semua. Kebiasaanya
bergonta-ganti pasangan sejak duduk di bangku SMA kini seolah hilang seiring
waktu. Baginya mudah sekali menjalin hubungan dengan beberapa wanita di Kampus.
Karena sosoknya yang lumayan gagah dan cukup tampan. Membuat para wanita yang
berada disekitarnya cukup mengaguminya. Kebetulan ia sering mewakili Kampus
mengikuti lomba renang antar Kota. Namun sudah sekitar satu semester ini
semenjak ia putus dari Diah. Teman sekelasnya sendiri membuatnya bertahan untuk
melajang. Seolah Mubarak tidak mempunyai gairah untuk menjalin hubungan dengan
wanita-wanita lain jika ia belum mampu menaklukkan hati Vita. Bidadari yang
selalu hadir dalam mimpinya. Alih- alih mengucapkan maaf atau apapun pada Faiza.
Mubarak langsung berjalan pergi menjauh dari Faiza. Ia kembali duduk di
bangkunya. Hendra yang melihat pemandangan demikian hanya menggelengkan kepala
melihat tingkah sahabatnya. Sungguh keterlaluan batin Hendra. Ia mencoba
berjalan menghampiri Faiza yang masih berdiri terpaku melihat tingkah Mubarak
yang sedingin itu padanya. Tiba-tiba Faiza dikejutkan oleh suara yang tak asing
lagi baginya.
“Jangan
di ambil hati. Dia mah emang begitu orangnya.” Kata Hendra pada Faiza.
“Iya enggak papa. Biasa aja. Mungkin suasana hatinya sedang buruk.” Jawab Farida sambil tersenyum.
“Iya enggak papa. Biasa aja. Mungkin suasana hatinya sedang buruk.” Jawab Farida sambil tersenyum.
“ah
ya sudah. Ngomong-ngomong tugas resume mu dari Pak Guntur udah kelar belum?”
tanya hendra sedikit mencairkan suasana pagi itu.
“alhamdulillah udah. Kalok kamu?”
“alhamdulillah udah. Kalok kamu?”
“wah..
jangan ditanya kalau gua mah. Belum. Hehehe” jawab hendra sambil menunjukkan
barisan giginya.
Faiza
tidak menjawab apa-apa. Ia hanya membalas Hendra dengan senyuman. Memang
begitulah Faiza. Gadis yang begitu pendiam. Agamis pula. Bia disandingkan
dengan Vita. Sebenarnya keduanya memiliki sosok yang sama. Sama-sama memakai
jilbab panjang. Sosok yang cerdas dan solehah. Namun entah apa yang membuat
Mubarak menjadi berpaling dari Faiza. Seolah Faiza hanya mampir sebentar dalam
hatinya lalu bergegas pergi berganti ke singgahan hati Vita. Memang perasaan
tidak pernah ada yang tahu. Ada kalanya ia bersemi dalam hati seorang insan
dalam waktu yang lama. Namun adapula yang sirna seketika tanpa datangnya badai
dan ombak, ia seolah lenyap tanpa ada bekas apapun. Begitulah cinta. Sebuah
perasaan yang datangnya dari Sang Maha Pemberi Hidup. Sebuah rasa yang
merupakan anugerah dari Sang Maha Cinta yang melekat di hati setiap insan.
Hanya saja sekian banyak dari mereka banyak yang tak mampu memahaminya dengan
baik sehingga rasa itu menjadi bencana dan fitnah bagi mereka yang memuja-muja
cinta tanpa dasar cinta pada Sang Maha Cinta.
Mungkin
hal semacam inilah yang ingin diraih Mubarak kerika rasa dalam hatinya itu
muncul untuk Vita. Seolah ada dorongan kuat dalam dirinya bahwa ia ingin
menjalin cinta yang sebenar-benarnya. Cinta yang hakiki.
Sudah
sekitar satu jam Vita berkutat dengan buku-bukunya. Sesekali ia menuliskan
hal-hal penting dalam buku kecilnya. Ia begitu menikmati dunia bacanya. Memang
itulah Vita. Seorang gadis yang hanya menghabiskan waktunya untuk membaca buku
sebanyak-banyaknya. Sepertinya hal itu sudah menjadi kebiasaanya dari kecil.
Sepanjang hidupnya ia selalu disuguhi hal-hal positif dari kedua orang tuanya.
Membaca buku, belajar dan mengaji. Sehingga tak heran lagi ia tumbuh menjadi
sosok wanita solehah yang cerdas. Yang memiliki semangat dalam setiap langkah
kakinya. Kecintaannya pada buku-buku membuatnya selalu ingin berbagi ilmunya
yang sudah didapatkannya dari membaca lewat ia menjadi seorang pemateri untuk
mengisi pengajian mingguan di kampus. Selain itu, ia juga seorang pengajar TPA
di komplek rumahnya. Sepertinya jiwa keibuan yang diwarisi oleh sang Ibunda
mampu membuatnya menjadi seorang pendidik bagi anak muridnya di TPA tempat ia
mengajar. Itulah rutinitas Vita. Selain menjadi seorang Mahasiswi, Aktivis dan Pendidik
ia juga sering dipanggil dalam acara-acara besar Kampus berkat kepiawaiannya
dalam berbicara. Meski pendiam, ia termasuk sosok yang ramah. Hanya saja ia
tetap berjaga jarak dengan laki-laki yang ada disekitarnya. Sebenarnya Vita
menyadari banyak laki-laki yang tertarik padanya bahkan sempat ada yang ingin
mempersuntingnya. Namun Vita sama sekali belum memiliki kesiapan akan hal itu.
Vita tidak ingin disibukkan dengan hal-hal kurang bermanfaat seperti itu.
Memikirkan cinta yang dalam pandangannya banyak yang tersakiti oleh karenanya.
Ia hanya ingin fokus pada dirinya umtuk saat ini. Ia yakin ada saatnya nanti
untuk memikirkan semua itu. Ya memikirkan cinta yang memang sudah pantas ia
dapatkan. Ia yakin Sang Maha Cinta sudah menyiapkan sosok yang baik untuknya.
Sosok yang mencintianya karena Snag Maha Cinta. Vita sangat yakin akan hal itu.
Ketika
ia tengah membawa sebagian buku-buku itu untuk dikembalikan ke tempat semula.
Ia dikagetkan dengan sosok Sukma yang tiba-tiba menyentuh pundaknya.
“ternyata
kamu disini. Huh. Aku cairiin kemana-mana”. Kata Sukma dengan suaranya khas.
“ya seharusnya kamu sudah tahu kebiasaanku disini. Jawab Vita datar.
“ya seharusnya kamu sudah tahu kebiasaanku disini. Jawab Vita datar.
Ia
masih tetap fokus merapikan buku-buku yang dipinjamnya tadi.
“Mas Ari mencarimu. Dia bilang ingin berdiskusi denganmu mengenai Seminar bulan depan.”
“Mas Ari mencarimu. Dia bilang ingin berdiskusi denganmu mengenai Seminar bulan depan.”
“loh?
Kenapa aku?” bukannya mbak Faiza yang menjadi koordinator untuk acara itu?”
Tanya
Vita dengan nada sedikit bingung.
“entah. Aku juga kurang tahu.” Ya mungkin Mas Ari kangen padamu. Setidaknya bagi dia melihat wajahmu sebentar sudah cukup.”
“astaghfirullah sukma. Ngawur kamu”. Jaga bicaramu!” Kata Vita dengan nada cukup kesal.
“entah. Aku juga kurang tahu.” Ya mungkin Mas Ari kangen padamu. Setidaknya bagi dia melihat wajahmu sebentar sudah cukup.”
“astaghfirullah sukma. Ngawur kamu”. Jaga bicaramu!” Kata Vita dengan nada cukup kesal.
“iya-iya,
afwan deh”. Kalau boleh tau kenapa kamu menolak mas Ari?”
“menolak?” tanya Vita sambil melotot tajam pada Sukma.
ia langsung bergegas meninggalkan Sukma dan berjalan keluar dari Gedung Perpustakaan. Sukma yang menyadari ditinggal oleh sahabatnya itu langsung berlari menyusul Vita. Ia berlari mengikuti langkah kaki Vita.
“menolak?” tanya Vita sambil melotot tajam pada Sukma.
ia langsung bergegas meninggalkan Sukma dan berjalan keluar dari Gedung Perpustakaan. Sukma yang menyadari ditinggal oleh sahabatnya itu langsung berlari menyusul Vita. Ia berlari mengikuti langkah kaki Vita.
“Vita!!
Tunggu!!” Teriak Sukma.
namun Vita tak menghiraukannya. Ia sedikit kesal pada sahabatnya itu mengenai pernyataan sukma yang menganggap bahwa dirinya sudah menolak Mas Ari. Vita berpikir sepertinya ia tidak pernah melontarkan penolakan pada Ari. Bahkan iapun tak menjawab apa-apa mengenai perasaan Ari padanya yang sudah banyak diketahuai oleh teman-teman satu organisasinya. Karena merasa ia sudah berjalan jauh dari Sukma. Ia memutuskan untuk duduk di bawah pohon. Sukma yang mengikuti langkahnya tampak kelelahan.
namun Vita tak menghiraukannya. Ia sedikit kesal pada sahabatnya itu mengenai pernyataan sukma yang menganggap bahwa dirinya sudah menolak Mas Ari. Vita berpikir sepertinya ia tidak pernah melontarkan penolakan pada Ari. Bahkan iapun tak menjawab apa-apa mengenai perasaan Ari padanya yang sudah banyak diketahuai oleh teman-teman satu organisasinya. Karena merasa ia sudah berjalan jauh dari Sukma. Ia memutuskan untuk duduk di bawah pohon. Sukma yang mengikuti langkahnya tampak kelelahan.
“Ya
Allah Vita. Tega kamu?” kata Sukma dengan napas ngos-ngosan.
“kan
aku sudah berkali-kali bilang sama anti. Jangan pernah bahas tentang Mas Ari. Dan kok bisa-bisanya kamu bilanng
aku menolak Mas Ari?” Memang aku pernah melakukannya?”
“iya-iya
afwan. Tapi menurutku tingkah mu itu seolah menolak Mas Ari. Kamu bersikap
dingin padanya.” Jelas Sukma.
“ya Allah Sukma. Anti kan tau sendiri aku egak suka bicara perasaan atau apapun itu”.
“tapi Mas Ari menyimpan perasaan padamu. Ia ingin kamu menjadi kekasihnya”.
“aku tidak berharap seseorang yang menginginkan ku sebagai kekasihnya”.
“lantas?” tanya Sukma heran.
“tapi menjadi istrinya”. Jawab Vita tegas.
“ya Allah Sukma. Anti kan tau sendiri aku egak suka bicara perasaan atau apapun itu”.
“tapi Mas Ari menyimpan perasaan padamu. Ia ingin kamu menjadi kekasihnya”.
“aku tidak berharap seseorang yang menginginkan ku sebagai kekasihnya”.
“lantas?” tanya Sukma heran.
“tapi menjadi istrinya”. Jawab Vita tegas.
“hm..
ya aku tau. Kamu tetap bersikeras dengan prinsipmu itu. Tidak ada pacaran tapi
langsung menikah.” Kata Sukma dengan nada pasrah.
“nah.
Anti sendiri tau kan hal itu”.
“hmm. Ya sudah. Ini tadi aku dibawain bude.” Kata Sukma sambil menyodorkan kotak makan.
“bude lastri maksudmu?”
“iya. Ibunya mas Mubarak. Kebetulan tadi aku mampir.
“hmm. Ya sudah. Ini tadi aku dibawain bude.” Kata Sukma sambil menyodorkan kotak makan.
“bude lastri maksudmu?”
“iya. Ibunya mas Mubarak. Kebetulan tadi aku mampir.
Bersambung
dulu ya...... J
Penulis : May Farida Nur Afaf (Mahasiswa IAIN Raden Intan)


Post a Comment
Post a Comment