Menulis, menulis, dan
menulis. Seharusnya mahasiswa identik dengan menulis karena mau tidak mau tugas
akhir mereka adalah menulis itu sendiri. Lalu kenapa mahasiswa masih enggan
untuk mulai menulis? Kapan mereka akan mulai menulis? Dari beberapa pertanyaan
yang terlontar, setidaknya mereka masih memiliki alasan-alasan untuk berkelit
daripada menulis itu sendiri.
Penulis sering kali
mendapati alasan seperti menulis bukanlah passion saya, atau menulis
adalah sesuatu yang susah untuk dilakukan dan saya tidak bisa melakukanya. Sebenarnya
bukan permasalahn passion ataupun menulis itu susah, melainkan malas
untuk mencoba. You will never know if you will never try, bagaimana
kemudian kita tahu bahwa itu bukan passion kita sedangkan kita tak
pernah menulis.
Memang tidak bisa
mengubah seluruh mahasiswa untuk gemar menulis akan tetapi membangun kesadaran
mereka akan pentingnya menulis sudah santer dikampanyekan dan hasilnya masih
minim mahasiswa yang tercerahkan untuk menulis. Mirisnya mayoritas mahasiswa
yang tidak menulis mereka juga tidak membaca dan tidak berorganisasi sehingga
wawasan yang dimilikipun relatif sedikit.
Tidak mau memulai
Terlepas dari mahasiswa
yang sama sekali tidak ada minat untuk menulis, sebenarnya ada pula yang
memiliki ide-ide bagus dan ingin menuangkanya kedalam bentuk tulisan. Akan tetapi
keinginan mereka hanya sebatas keinginan semu tanpa adanya tindakan
berkelanjutan, mereka tidak menyegerakan diri untuk menuliskan ide-ide yang ada
dipikiran mereka.
Tulisan yang jelek
Sebagian dari mereka juga
beranggapan bahwa tulisan yang akan mereka hasilkan jelek dan tidak pantas
untuk dibaca banyak orang, padahal untuk penulis pemula pikiran bahwa tulisan
yang kita buat adalah jelek harus dibuang karena apabila kita terus memikirkan
tulisan-tulisan yang bagus maka itu akan membebani diri kita sendiri. Asumsi bahwa
tulisan kita jelek yang terus dipelihara nantinya akan membuat kita enggan
untuk menulis.
Menulis bukanlah
keharusan
Mahasiswa yang
berpendapat bahwa menulis bukanlah suatu keharusan juga kurang tepat. Mereka yang
berpendapat seperti itu nantinya akan gagap setiap kali dihadapkan dengan tugas
yang berhubungan dengan menulis seperti membuat makalah, essai, atau bahkan
skripsi, tesis, disertasi dan lainya. Walhasil mereka akan mencari alternatif
seperti meng-copy-paste hasil karya pekerjaan orang lain untuk
menyelesaikan tugas mereka.
Itu semua terjadi karena
mereka mengesampingkan atau menomor-sekiankan menulis dan lebih mengutamakan hal-hal
menyenangkan yang sifatnya sesaat, misalnya lebih memilih hangout
daripada menulis, atau lebih aktif memaksimalkan kinerja gadget daripada
kinerja otak.
Imbas jangka panjangnya
adalah mereka senantiasa membudidayakan budaya plagiasi secara terus menerus
sehingga kekeliruan tersebut semakin dipahami oleh kalangan mahasiswa dan
akhirnya melegalkan hal-hal tersebut. Sikap permisif mereka terhadap kesalahan
yang mereka lakukan secara terus menerus itu akan membawa kesuatu kondisi yang
disebut Pseudo-Akademis atau atau orang yang berpendidikan semu.
Sebenarnya fasilitas bagi
mereka yang ingin serius dalam menulis sudah tersedia dengan baik, adanya wadah
bagi penulis pemula dan adanya portal jurnalisme warga seperti
Griyatulisan.blogspot.com dan Pojoksamber.com seharusnya bisa menambah motivasi
mahasiswa untuk menulis.
Setidaknya dengan menulis
mahasiswa memiliki karya yang dapat dibanggakan selama menempuh pendidikan
dikampus, karena “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak
menulis ia akan hilang di dalam pusaran sejarah dan masyarakat. menulis adalah
bekerja untuk keabadian” Pramoedya Ananta Toer.

Post a Comment
Post a Comment