"Kenapa langitnya memerah ayah?"
Kalimah yg tak dibagi hak untuk sekedar mengudara; buah gelisah, pada Suriah
Kalimah yg tak dibagi hak untuk sekedar mengudara; buah gelisah, pada Suriah
Embun, bahkan tak sudi hampiri pangkal hari-yang sudah tak layak perkutut ucap "selamat pagi"
Langit pasrah, menghujani api; lantas arwah-arwah peribumi, melangit tinggi-tinggi
Langit pasrah, menghujani api; lantas arwah-arwah peribumi, melangit tinggi-tinggi
Pilu; Udara kelabu, dijejal rudal dan bom waktu
Dan tanah?
Halah, sudah tak lagi basah; sebab air mata mengering sebelum rebah
Dan tanah?
Halah, sudah tak lagi basah; sebab air mata mengering sebelum rebah
Alih-alih pertahankan negara, lewat jasad-jasad peribuminya?
Berdalih-daulah, lewat anak-anak bangsa; nyatanya, dilarang untuk sekedar menginjak dewasa?
Berdalih-daulah, lewat anak-anak bangsa; nyatanya, dilarang untuk sekedar menginjak dewasa?
Ini adalah ulah, tuan ...
Bukan cuma kebetulan.
Percuma!
Bukan cuma kebetulan.
Percuma!
Katanya cerdas: nyatanya akal dipenuhi kadas, kesal!
Ahli pembuat nuklir, katanya.
tapi tak kuasa selamatkan tanah sejarah; justru luluh lantah
Ahli pembuat nuklir, katanya.
tapi tak kuasa selamatkan tanah sejarah; justru luluh lantah
Berkisah-tak berkasih si sejarah,
Berlumuran darah
Berlumuran darah
Penulis : Nyai Ayu


Post a Comment
Post a Comment