Dewasa ini, semakin terlihat bahwa prilaku masyarakat kita sangat
terpengaruh atau bahkan tergerus oleh budaya asing. Namun, mereka seakan justru
sangat nyaman dan menerima kondisi ini. Bahkan
terkadang penulis juga berfikir bagaimana bisa keadaan masyarakat saat ini
seolah-olah begitu enjoy menikmati penjajahan yang dilakukan, dimana hal
itu sebenarnya akan terus-menerus menggerus kearifan budaya lokal.
Kesadaran akan kebenaran yang terjadi bahwa sesungguhnya mereka
sedang dijajah oleh budaya asing seakan tidak terlihat sama sekali. Bahkan
kecenderungan untuk mengikuti budaya asing justru semakin nampak. Jika hal ini
tidak segera disadari, penulis khawatir anak-anak yang merupakan generasi
penerus bangsa lupa akan budaya lokal serta jati diri yang mereka miliki.
Bukan hal yang tidak mungkin, apabila anak-anak yang merupakan
generasi penerus bangsa ini terkena dampak dari hegemonisasi budaya asing
hingga kemudian mengkristal ketika mereka beranjak dewasa. Maka, ketakutan akan
hilangnya jati diri bangsa serta budaya lokal dari masyarakat kita bisa saja
kemudian menjadi nyata.
Melihat realita bahwa masyarakat kita saat ini, khususnya remaja lebih menyukai hiburan drama korea dan film-film holywood dibandingkan dengan hiburan lokal yang kita miliki seperti ludruk misalnya. Bahkan, gaya berpakaian dan penampilan merekapun terpengaruh oleh boyband dan girlband korea serta artis-artis asing lainya. Mereka lupa bahwa bangsa kita kaya akan budaya dan pakaian adat seperti batik, kebaya, dan kain ulos misalnya.
Indonesia merupakan negara yang kaya akan adat, budaya, dan bahasa.
Hal ini terbukti dengan adanya lebih dari 300 suku bangsa, dan bahasa yang ada
di Indonesia. Dan beberapa suku bangsa di Indonesia bahkan memiliki falsafah
hidup untuk mengatur tata kehidupan mereka sehari-hari. Seperti suku Bali yang
mempunyai falsafah hidup Tri Hita Karana, ataupun Lampung dengan Phiil
Pesenggiri misalnya.
Falsafah hidup yang sejatinya merupakan pandangan ataupun tata cara
yang mengatur kehidupan manusia, semestinya dapat menjadi benteng akan
datangnya budaya asing. Bahkan, lebih jauh lagi falsafah hidup mampu memelihara
kekayaan adat dan budaya yang masyarakat kita miliki.
Disini penulis ingin menyampaikan bahwa
seharusnya dengan kekayaan budaya serta falsafah hidup yang kita miliki, dapat
menjadi pelindung dari terpaan hegemonisasi budaya asing. Ketika masyarakat kita masih berpegang teguh terhadap adat istiadat
dan falsafah hidup yang kita miliki, globalisasi dan hegemonisasi tidak akan
dengan mudah dapat masuk kedalam budaya kita.
Falsafah hidup yang esensinya mengatur prilaku
bangsa kita akan mampu menghindarkan bangsa ini sejauh mungkin dari
hegemonisasi bangsa lain, ketika memang kita benar-benar mengimplementasikan
nilai-nilai dari budaya dan falsafah hidup yang dimiliki oleh bangsa ini dalam
kehidupan sehari-hari. Sudah
waktunya kita sadar bahwa kita merupakan bangsa yang besar dan kaya akan
budaya, bahasa, dan adat istiadat.
Penulis: Tri Yogi Riandika


Post a Comment
Post a Comment