Lunturnya kearifan lokal Desa Sidomulyo

Post a Comment


Kearifan lokal di desa sudah hampir pudar khususnya desa dimana penulis tinggal yaitu Desa Sidomulyo Kecamatan Penawartama Kabupaten Tulang Bawang. Sama seperti desa pada umumnya dahulu desa ini memiliki ciri khas ala pedesaan yaitu keramahtamahan warganya, saling gotong royong, dan spiritualis.
Ciri khas lain desa ini adalah kerap didapati beberapa banyak rombongan warga yang berbondong menuju kebun karet disaat pagi buta, biasanya dari selesai shalat subuh dan pulang jam 07.00. Benar, ini dikarenakan mayoritas warganya bekerja sebagai petani penyadap karet. Akan tetapi alih-alih mempertahankan budaya ternyata justru realitasnya masih jauh panggang daripada api.
Bagaimana tidak, beberapa lama penulis mengamati kebiasaan tersebut kini sudah jarang terlihat. Salah seorang warga desa atau lebih tepatnya tetangga penulis yang dahulu sering menyadap karet dari pukul 05.00 sampai 07.00 menjelaskan bahwa tradisi menyadap bersama ini sudah jarang dilakukan setidaknya tiga tahun terakhir.
Alasanya beragam dari memang mulai malasnya warga melakukan lagi hal tersebut hingga alasan faktor ekonomi. Harga karet yang semakin menurun membuat para warga enggan untuk menyadap karet dan beralih menanam singkong ataupun bekerja sebagai buruh angkut brondolan kelapa sawit di beberapa PT dengan gaji yang relatif rendah.
Sebenarnya sangat disayangkan ketika budaya yang sudah ada sejak lama kini perlahan mulai menghilang. Wajar apabila mereka mulai meninggalkan kebun karet karena hal tersebut merupakan bentuk kekecewaan terhadap harga karet itu sendiri, meskipun masih ada warga yang tetap bertahan sebagai petani penyadap karet dengan harapan harga karet akan naik.
Selain mulai pudarnya budaya menyadap karet bersama, menurut penulis Desa Sidomulyo justru mengalami kemunduran karakter dizaman modern seperti ini. Kenyataan bahwa pemuda desa tersebut juga terkena dampak dari arus globalisasi justru tidak membuat mereka lebih berkembang dalam penambahan wawasan dunia luar.
Benar mayoritas dari mereka memiliki Smartphone, akan tetapi penggunaanya lebih dimaksimalkan kearah hal-hal yang cenderung negatif. Bagaimana tidak, beberapa sejawat penulis malah menggunakan Smartphone mereka untuk membuka red-tube dan berbagai situs porno lainya. Bahkan sangat miris ketika beberapa dari mereka memanfaatkan telepon pintar mereka itu sebagai wadah video porno.
Hal tersebut mengakibatkan banyak pemuda Desa Sidomulyo hanya berorientasi kepada seks saja. Pada akhirnya ini merupakan salah satu penyebab banyaknya pernikahan dini di desa tersebut, tepatnya menikah karena “kecelakaan” atau married by accident.
Ditambah lagi pemuda Desa Sidomulyo sudah terkenal di desa lain memiliki kebiasaan suka minum-minuman keras dan tak jarang berbuat onar ketika ada acara seperti orgen tunggal dan sejenisnya.
Penulis merasa sedikit canggung berada di desa sendiri karena banyak sekali perubahan. Mengingat penulis lahir, tumbuh, dan menikmati masa kecil di Desa Sidomulyo kini sudah tidak mendapati keasrian khas pedesaan yang pernah begitu menawan. Memang penulis hanya menempuh pendidikan di desa sendiri sampai sekolah menengah pertama saja.
Selepas lulus tahun 2011 penulis langsung merantau ke pulau seberang untuk melanjutkan jenjang sekolah menengah atas, sehingga penulis tidak tahu akan proses pergeseran identitas Desa Sidomulyo kearah seperti yang sekarang ini.
Meskipun demikian memang perlu banyak metode untuk merubah kembali desa tersebut kearah yang lebih baik atau setidaknya memunculkan kembali kearifan lokal yang ada. Khususnya untuk para pemudanya sebagai generasi desa tersebut, penulis juga termasuk didalamnya. Sebanarnya penyebab yang paling utama dari beberapa hal diatas adalah faktor pendidikan.
Tidak dapat dipungkiri bahwa pemuda Desa Sidomulyo masih banyak yang hanya lulusan sekolah menengah pertama dan cenderung kurang wawasan, sehingga ketika terkena arus globalisasi mereka terombang-ambing dengan segala bentuk modernitas. Alih-alih ingin ikut tren yang ada justru tanpa diimbangi dengan wawasan pengetahuan dan kontrol sosial mereka malah berbelok kearah lain.
Jadi faktor pendidikanlah yang sebenarnya harus dibenahi. Kontruksi mental dan sosialisi bertemakan dampak globalisasi harus dilakukan oleh aparatur desa kepada pemuda Desa Sidomulyo. Harus diadakan pula karang taruna sebagai wadah bagi pemuda untuk saling bertukar pikiran dan kreatifitas, dengan demikian mereka akan terkontrol dan tidak melakukan tindakan-tindakan negatif.

Namun hal tersebut harus diadakan secara kontinyu untuk mencegah para pemuda desa kembali kearah dimana mereka akrab dengan kehidupan negatifisme. Dari sini harus adanya peran aparatur desa khususnya dan seluruh warga desa umumnya, untuk merubah Desa Sidomulyo kembali kerah yang lebih baik. Tabik!!



Penulis : Julianto Nugroho

Related Posts

Post a Comment